Tetralogi Laskar Pelangi – Andrea Hirata

Akhirnya hari ini saya selesai membaca Maryamah Karpov, buku terakhir dari tetralogi Laskar Pelangi. Keempat buku ini benar-benar suguhan literatur yang sangat bagus dan layak dimiliki oleh siapa saja. Saya sendiri merasa sangat beruntung memutuskan membeli dan menikmati kisah-kisah memoar Andrea Hirata ini. ^^

Laskar Pelangi

Laskar Pelangi

Laskar Pelangi

Laskar Pelangi sebenarnya bukanlah favorit saya diantara keempat buku ini (meski saya rasa judul ini yang paling terkenal). Cukup lama setelah rilis baru saya tonton film fenomenal ini. Saya mau menunggu selesai membaca novelnya dulu baru nonton filmnya. Kesan saya ketika selesai baca, novel ini agak terlalu hiperbola buat saya. Penggunaan timing waktu yang berlompatan di setiap ‘mozaik’nya cukup membuat saya bingung. Banyak hal-hal yang membuat saya sedikit berkerut kening (terutama kalau bagian Lintang sedang menjelaskan suatu ilmu) karena banyak kata-kata yang saya ngga ngerti. ^^;

Yah, mungkin saya nya juga yang kurang intelek, dan dalam bayangan saya ketika membaca Laskar Pelangi, saya sedang membaca sebuah novel cerita, bukan memoar seseorang sehingga rasanya aneh kalau anak-anak SD ini menggunakan kata-kata dengan penjelasan yang orang dewasa aja bisa kelimpungan. Endingnya yang ngegantung juga lumayan bikin saya bingung. Padahal kalau dipikir-pikir sekarang sebenarnya gantung karena memang belum selesai.

Tapi secara keseluruhan, Laskar Pelangi adalah novel yang sarat akan makna, suatu bentuk sastra yang mendobrak dan bermutu diantara sekian banyak bacaan populer lainnya, jenaka sekaligus mengharukan dan sangat berkesan di hati. Kisah perjuangan anak-anak Belitong untuk mengenyam pendidikan, kisah anak-anak Laskar Pelangi dengan keunikan dan kehebatan masing-masing, dan nasib yang dijalani masing-masing dari mereka, semuanya meninggalkan kesan yang sangat mendalam.

Sang Pemimpi & Edensor

Sang Pemimpi

Sang Pemimpi

Entah apa karena saya semakin terbiasa dengan gaya bahasanya, atau karena tokoh-tokohnya beranjak lebih dewasa sehingga pembicaraan-pembicaraan ilmiah yang terjadi lebih bisa diterima otak saya, Sang Pemimpi dan Edensor bisa saya nikmati dengan sangat baik. Keduanya berfokus pada Ikal dan Arai dalam menjalani hidup penuh tantangan demi menggapai mimpi-mimpi mereka yang besar. Mulanya saya cukup bertanya-tanya kemana anggota-anggota Laskar Pelangi lainnya dan kenapa tidak diungkit-ungkit lagi. Tapi kemudian saya mencoba maklum mungkin pengarang ingin mengisahkan babak baru hidupnya mang memang tidak lagi berfokus pada Laskar Pelangi, melainkan pada sepupunya, Arai.

Sang Pemimpi mengisahkan Ikal dan Arai ketika beranjak remaja dengan kisah-kisah persahabatan mereka, bagaimana Arai selalu memberikan motivasi positif dalam kehidupan Ikal, sampai kemudian mereka mengadu nasib di Pulau Jawa dan berjuang mendapatkan beasiswa untuk kuliah di Sorbonne, Perancis.

Edensor

Edensor

Sedang Edensor lebih menyuguhkan petualangan Ikal dan Arai ketika kuliah di Perancis, menjalani kehidupan mahasiswa S2 masih dengan mimpi-mimpi gila yang terwujud dengan petualangan backpacking mereka keliling Eropa sampai Afrika. Tokoh A Ling yang muncul di Laskar Pelangi, meski tidak muncul disini tapi menjadi motivasi penting bagi Ikal untuk menaklukan dunia. Kenapa judulnya Edensor? Kalau dibaca pasti akan tahu sendiri. xD

Seperti Laskar Pelangi, kedua buku ini membawa pembaca untuk berani bermimpi dan berani berjuang demi mimpi-mimpi itu. Membawa kita untuk selalu melihat hidup ini secara positif dan mengajarkan kalau kepesimisan hanya membatasi diri sendiri untuk menggapai mimpi. Bila memiliki Laskar Pelangi, maka 2 buku ini juga wajib dimiliki. Dan bila 3 buku tersebut sudah habis dibaca, berarti list selanjutnya untuk bacaan wajib adalah Maryamah Karpov.

Maryamah Karpov (Mimpi-Mimpi Lintang)

Maryamah Karpov

Maryamah Karpov

Maryamah Karpov adalah klimaks dari Tetralogi Laskar Pelangi. Buku ini saya nobatkan sebagai novel terbaik yang pernah saya baca sejauh ini. Rasanya saya benar-benar sudah bisa menikmati gaya bahasanya di buku ke-4 ini dan perubahan dari ‘mozaik’ ke ‘mozaik’ nya dirancang dengan sangat pintar dan menggelitik.

Ada bagian yang jenaka, bagian yang mengharukan, ada juga bagian yang penuh petualangan dan menegangkan. Perbandingan kultural antara masing-masing ras penghuni Pulau Belitong juga digambarkan dengan detil disini sehingga sampai pertengahan novel tadinya saya kira Maryamah Karpov lebih membahas hal-hal kultural dibanding novel-novel sebelumnya. Pada Novel sebelumnya Andrea Hirata juga sering memberikan perbandingan kultural mahasiswa-mahasiswa dari berbagai negara yang satu kuliah dengannya. Namun di novel ini suasana budayanya benar-benar terasa buat saya (mungkin karena settingnya Indonesia). Meski demikian dari awal sampai akhir novel ini berhasil menyihir saya sehingga menjadi tergila-gila akan tetralogi fenomenal ini.

Kelemahannya adalah untuk menikmati novel ini secara utuh berarti harus membaca mulai dari Laskar Pelangi, Sang Pemimpi, sampai Edensor. Karena Maryamah Karpov merupakan intisari semuanya dengan keberadaan Arai, anggota Laskar Pelangi, dan A Ling yang menjadi fokus penting dalam keseluruhan cerita.

Maryamah Karpov mengisahkan Ikal (sang penulis, Andrea Hirata) yang sudah menyelesaikan studi S2nya di Sorbonne, Perancis, dan kemudian kembali ke Belitong. Kembali ke realita Indonesia yang jelas berbeda dengan manisnya Paris (terutama secara transportasi), kembali ke keluarga yang sudah menantinya, kembali ke lingkungan tempat ia besar sejak lahir. Kisah kemudian bergulir ketika Ikal kemudian menemukan petunjuk penting akan keberadaan A Ling dan berjuang mati-matian meski menghadapi cemoohan banyak orang untuk menemukan cinta pertamanya itu, meski harus mempertaruhkan nyawa mati ditelan laut atau dibunuh kaum Lanun.

Ending Maryamah Karpov juga sangat-sangat berkesan dan justru sangat rasional terjadi, namun penempatannya membuat pembaca bertanya-tanya apa yang akan terjadi pada Ikal dalam menghadapi masalah yang jauh lebih berat daripada perjuangan keliling dunia maupun berlayar menuju sarang bajak laut Malaka.

Tetralogi Laskar Pelangi adalah novel-novel terbaik yang saya miliki dengan kualitas penulisan yang luar biasa dan kisah yang memukau. Sangat sangat sangat saya rekomendasikan untuk dimiliki. Kadang saya malah berpikir apa mungkin novel ini akan masuk dalam buku pelajaran Bahasa Indonesia. xDD

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: