Kisah Kelinci Bulan

Kalau menurut mitos dan dongeng anak-anak di Jepang, bulan konon ditinggali oleh kelinci yang selalu menumbuk kue mochi. Masyarakat Jepang melihat bagian bulan yang sedikit gelap (terutama terlihat ketika bulan purnama) adalah bentuk kelinci yang sedang menumbuk mochi. Namun saya sendiri tidak terlalu tahu banyak mengenai dongeng kelinci bulan lebih jauh lagi sampai belum lama ini saya menemukannya di buku dongeng Jepang untuk anak-anak yang ditulis dalam bahasa Inggris di Kinokuniya. Sayang saya lupa judul buku maupun nama pengarangnya.

Diceritakan kembali oleh Andhika Wijaya.

Alkisah di suatu hutan hiduplah 3 ekor binatang, yaitu seekor monyet, seekor rubah, dan seekor kelinci. Ketiganya bersahabat baik dan merupakan binatang yang baik hati. Melihat ketiga binatang tersebut, dewa penjaga bulan menjadi penasaran. “Siapa diantara mereka yang paling baik?” pikirnya.

Sang dewa lalu turun ke bumi dan mengubah dirinya supaya terlihat seperti pengemis tua. Ia menghampiri ketiga binatang tersebut dengan tertatih-tatih. “Saya sangat lapar dan sudah berhari-hari tidak makan. Kasihanilah orang tua ini,” kata sang dewa. Melihat pengemis yang kelaparan, ketiga binatang itu jatuh kasihan. Monyet segera memetik buah-buahan di hutan sebanyak yang ia bisa dan memberikannya kepada pengemis tersebut. Sementara rubah mengumpulkan ikan sebanyak-banyaknya untuk si pengemis.

Namun kelinci tidak bisa mengumpulkan apa-apa. Ia tidak bisa memetik buah diatas pohon yang tinggi maupun menangkap ikan di sungai. Kelinci menjadi sedih, namun ia tak putus asa. Ia meminta tolong kepada monyet dan rubah untuk membantunya mengumpulkan ranting dan kayu kering. Kemudian ia membuat api dan membakar kayu-kayu tersebut.

“Maaf aku tidak bisa mengumpulkan apa-apa,” kata kelinci. “Namun aku tidak akan membiarkanmu kelaparan. Aku akan masuk ke dalam api, setelah matang makanlah dagingku supaya kamu tidak lapar lagi.”

Tanpa sempat dicegah oleh monyet dan rubah, kelinci segera melompat ke dalam api untuk membakar dirinya sendiri. Namun dalam sekejap sang dewa menyelamatkan kelinci dan menampakkan wujud aslinya. “Kau tidak perlu membakar dirimu, wahai kelinci. Sebenarnya aku adalah dewa penjaga bulan. Ketulusan dan kebaikanmu membuatku terharu. Ikutlah denganku ke bulan untuk menemaniku.”

Sejak saat itu, kelinci tinggal bersama sang dewa. Ia melayani sang dewa dan mengawasi bumi dari kejauhan. Bila monyet dan rubah merindukan sahabatnya, mereka memandang bulan di langit untuk melihatnya. Dan bila bulan purnama tiba akan terlihat si kelinci yang sedang membuatkan mochi untuk sang dewa.

4 Komentar

  1. Maret 21, 2008 pada 8:46 am

    saya suka sekali kelinci..dan saya suka sekali dongeng itu…

  2. ikaruweks said,

    Oktober 16, 2011 pada 7:46 pm

    thankyu for this story😀
    saya ambil buwat tugas yaa
    makasihh

  3. Februari 19, 2012 pada 6:20 pm

    aku pakek ceritanya buat tugas bahasa…
    makasih ya…🙂

  4. Desember 8, 2014 pada 12:27 pm

    Kira-kira awal 2001 lalu saya pernah baca kisah ini pada sebuah buku dongeng. Beberapa hari ini saya teringat kisah ini…
    Untuk menuliskan kembali saya tidak punya kemampuan, he…he…
    Jadi saya copy yach… untuk koleksi dan saya ceritakan kembali.
    Terima Kasih…


Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: