NiuLang dan ZhiNu sampai Jaka Tarub dan Nawang Wulan

Jaka Tarub dan Nawang Wulan, kisah seorang pemuda yang mengintip 7 bidadari mandi yang sangat terkenal di Pulau Jawa (meski masih kalah ekstrim dengan kisah Sang Kuriang ^^;). Di Jawa Timur kisah ini juga dikenal dengan nama Aryo Menak dan Tunjung Wulan. Tidak hanya di Indonesia, di berbagai negara, terutama Asia, kisah serupa juga banyak dikenal meski dengan nama yang berbeda-beda. Di Cina dan Jepang terdapat beberapa variasi dari kisah ini. Bisa dikatakan Jaka Tarub dan Nawang Wulan yang kita kenal selama ini hanyalah satu dari sekian banyak variasi versi yang ada, dan dalam tulisan kali ini saya hendak mencoba untuk menjabarkannya.

Cina

Di Cina kisah ini dikenal dengan nama Pria Pengembala dan Putri Penenun. Niu Lang sang penggembala sapi secara kebetulan melihat 7 orang bidadari yang merupakan putri-putri Kaisar Giok. Dibujuk oleh sapi yang menemaninya maka dengan niat nakal sang penggembala mengambil salah satu dari pakaian para bidadari tersebut, dan dia memilih yang berwarna merah. Para bidadari kemudian menyuruh adik bungsu mereka, Zhi Nu (sering digambarkan sebagai yang tercantik diantara saudara-saudaranya), untuk mengambil pakaian mereka. Akibatnya Niu Lang melihat sang bidadari dalam keadaan telanjang dan mereka pun menikah.

Versi yang lebih halus mengatakan pakaian Zhi Nu tertiup angin dan secara kebetulan ditemukan oleh Niu Lang. Mereka pun saling jatuh cinta dan menikah. Selain itu masih ada versi dimana Niu Lang hanya mengambil salah satu pakaian bidadari dengan niat bercanda, namun ternyata perbuatannya membuat Zhi Nu menangis karena tidak bisa pulang ke khayangan. Niu Lang kemudian menjadi kasihan dan mengembalikan pakaian tersebut. Ia pun menawarkan tempat berteduh untuk Zhi Nu karena hari sudah malam, dan mereka pun saling jatuh cinta.

Di khayangan Zhi Nu memiliki tugas untuk menenun awan beraneka warna, karena itu ketika Kaisar Giok tahu Zhi Nu tidak menjalankan tugasnya lagi dan bahkan menikahi seorang rendah, ia pun menjadi sangat marah dan dengan paksa memisahkan suami istri tersebut. Dengan bantuan sapi nya yang ternyata merupakan penjelmaan dewa, Niu Lang mencoba mengejar istrinya yang dibawa pergi. Namun ketika Niu Lang berhasil mendekati istrinya tiba-tiba muncul lautan yang memisahkan mereka.

Karena kasihan, jutaan burung-burung membantu mereka dan saling membentuk jembatan supaya suami istri ini dapat bertemu. Terkesan dengan cinta Niu Lang dan Zhi Nu, para dewa akhirnya kasihan dan mengijinkan mereka setahun sekali setiap tanggal 7 bulan 7 penanggalan Cina, karena bagaimanapun dewa dan manusia biasa tak bisa hidup bersama.

Ada lagi versi lain yang mengatakan Niu Lang sengaja mengambil pakaian Zhi Nu karena jatuh cinta pada bidadari tersebut dan tidak ingin Zhi Nu kembali ke khayangan. Zhi Nu kemudian menikah dengan Niu Lang, namun merindukan khayangan tempat keluarganya berada. Ia kemudian menemukan sebuah kotak yang ternyata berisi pakaiannya lalu kembali ke khayangan. Namun ketika Zhi Nu kembali, Kaisar Giok segera memanggil sungai untuk memisahkan bumi dan khayangan sehingga Zhi Nu tidak dapat kembali kepada suaminya. Mereka pun tidak dapat bertemu satu sama lain dan dengan sedih Zhi Nu kembali bekerja, sementara Niu Lang melihat istrinya dari jauh sambil merawat kedua anak mereka. Karena kasihan, setiap setahun sekali burung-burung membantu mereka bertemu dengan membuatkan jembatan.

Tanggal 7 bulan 7 pada penanggalan Cina kemudian dirayakan sebagai hari raya Qi Xi. Kadang juga disebut sebagai Chinese Valentine’s Day. Pada hari ini gadis-gadis muda umumnya menunjukkan kemampuan seni mereka dan berdoa supaya mendapatkan jodoh yang baik.

Kisah ini sebenarnya merepresentasikan bintang Altair (Niu Lang) dan Vega (Zhi Nu) yang terpisah oleh gugus bimasakti, namun setiap akhir musim panas keduanya bertemu dengan dijembatani oleh bintang Deneb dari rasi bintang Cygnus. Burung-burung yang menolong Niu Lang dan Zhi Nu dalam bahasa Inggris disebut Magpie dan dalam bahasa Jepang disebut Kasasagi. Tapi sampai sekarang saya tidak tahu dalam bahasa Indonesia burung-burung ini disebut apa. ^^;;

magpie

Jepang

Di Jepang, kisah ini lebih dikenal dan dirayakan dengan nama perayaan malam ke-7 atau Tanabata. Pada hari ini orang-orang biasanya menuliskan permohonan mereka di selembar kertas lalu digantungkan pada pohon bambu. Pada malam atau keesokan harinya bambu-bambu tersebut dihanyutkan ke sungai atau dibakar setelah festival.

Alkisah Orihime (kadang dikenal dengan nama Shokujo), putri Kaisar Langit (Tenkou), sehari-hari selalu merajut di tepi sungai khayangan (Amanogawa). Kain-kain rajutannya sangat indah dan disukai sang kaisar, namun rutinitasnya membuat Orihime jenuh dan sedih karena kesepian. Kasihan pada putrinya, Kaisar Langit lalu mempertemukan Orihime dengan Hikoboshi (atau kadang dikenal dengan nama Kengyuu), seorang penggembala sapi khayangan yang tinggal di sisi sungai yang lain. Mereka pun saling jatuh cinta dan menikah. Namun setelah menikah mereka melupakan pekerjaan masing-masing. Tidak ada lagi kain-kain yang ditenun dan sapi-sapi berkeliaran bebas. Akibatnya Kaisar Langit pun marah dan memisahkan mereka berdua.

Orihime menjadi sangat sedih dan memohon kepada ayahnya supaya ia dapat kembali bertemu dengan suaminya. Kaisar Langit pun mengabulkan permohonan putrinya, namun Orihime hanya bisa bertemu Hikoboshi di hari ke-7 pada bulan ke-7 setiap tahunnya. Ketika pertama kali mencoba bertemu, Orihime dan Hikoboshi menyadari mereka tidak dapat menyeberangi sungai karena tak ada jembatan. Orihime pun menangis dan burung-burung yang kasihan membantu menjembatani mereka. Namun bila hari hujan mereka tidak bisa membantu sehingga Orihime dan Hikoboshi harus menunggu satu tahun lagi. Konon hujan diciptakan Kaisar Langit bila pekerjaan Orihime belum selesai atau tidak bagus untuk menghukumnya.

Versi lain dari kisah ini di Jepang lebih mirip dengan versi yang terdapat di Cina. Mikeran menemukan pakaian bidadari di ladangnya. Tanabata, bidadari pemilik pakaian tersebut, kemudian mengunjungi Mikeran karena mencari pakaiannya. Mikeran berbohong dan mengatakan ia tidak menemukan pakaian sang bidadari namun ia menawarkan bantuan untuk menolongnya mencari pakaian tersebut. Mereka pun kemudian jatuh cinta, menjadi suami istri, dan memiliki beberapa anak.

Setelah beberapa lama Tanabata menemukan pakaiannya dan ia pun sadar selama ini Mikeran membohonginya (dalam versi lain, salah satu anaknya yang kemudian menemukan pakaian Tanabata). Mikeran memohon dengan sangat agar istrinya tidak meninggalkannya. Tanabata lalu meminta agar Mikeran menganyam seribu pasang sepatu jerami bila suaminya ingin ia kembali lagi. Namun selama hidup Mikeran tak mampu menganyamnya sehingga Tanabata pun tak pernah kembali. Mereka hanya dapat bertemu setahun sekali di hari ke-7 bulan ke-7, ketika bintang Altair dan Vega saling bertemu. Kisah ini juga dikenal dengan judul Hagoromo.

Legenda lain dari kitab Kojiki mengisahkan seorang pelayan wanita (miko) bernama Tanabatatsume yang harus menenun pakaian untuk dewa di tepi sungai, dan menunggu di rumah menenun untuk dijadikan istri semalam sang dewa agar desa terhindar dari bencana.

Korea

Di Korea kisah ini pun mendapat tempatnya dengan nama Kyun-wo dan Chik-nyo, atau Penggembala dan Penenun. Alurnya lebih mirip dengan Cerita Orihime dan Hikoboshi dari Jepang. Berdasarkan versi yang dituturkan Kyong-Hi Lee, Chik-nyo adalah seorang putri yang tinggal di kerajaan yang dekat dengan bintang-bintang. Ia sangat suka menenun sutra setiap hari dan hasil kerjanya membahagiakan orangtuanya. Suatu ketika Chik-nyo menenun sutra dengan pola wajah seorang pemuda. Orang tuanya pun sadar sudah waktunya putri mereka untuk menikah. Atas saran para penasehatnya, Chik-nyo dijodohkan dengan Kyun-wo. Pemuda yang dipilih itu adalah seorang pangeran negeri sebrang yang terkenal baik merawat sapi-sapinya.

Pernikahan besar pun dilaksanakan dan mereka berdua hidup berbahagia. Namun lama-kelamaan mereka melupakan pekerjaan mereka masing-masing. Alat tenun Chik-nyo menjadi berkaat dan sulit digunakan, sementara Kyun-wo menelantarkan sapi-sapinya. Orangtua mereka kemudian memutuskan untuk menghukum dan memisahkan mereka. Dengan sedih pasangan suami istri itu memohon supaya mereka diampuni. Sang raja kemudian berjanji akan mempertemukan mereka setahun sekali bila mereka mau kembali bekerja keras.

Kyun-wo dan Chik-nyo menjadi begitu sedih dan menangis selama berhari-hari. Air mata mereka jatuh ke bumi dan menyebabkan banjir besar. Mereka saling merindukan satu sama lain sehingga tidak dapat bekerja dengan baik. Ketika hari dimana mereka boleh bertemu akhirnya tiba, mereka kembali sedih dan menangis ketika menyadari gugus bimasakti yang lebar dan dalam memisahkan mereka. Hewan-hewan di bumi semakin cemas karena banjir karena tangisan pasangan tersebut sudah menimbulkan penderitaan besar bagi mereka. Akhirnya burung-burung pun menolong mereka bertemu dengan menjadi jembatan supaya Kyun-wo dan Chik-nyo menghentikan tangis mereka. Sejak saat itu, Kyun-wo dan Chik-nyo selalu bertemu setiap tanggal 7 bulan 7. Konon setelah mereka bertemu akan muncul rintik-rintik hujan, tangisan Kyun-wo dan Chik-nyo yang kembali harus berpisah untuk setahun ke depan.

Eropa

Mulanya saya cukup terkejut ketika menemukan kisah yang mirip dengan Jaka Tarub dan Nawang Wulan dalam versi Barat. Sepertinya kisah ini juga terbawa sampai benua lain, dan di Eropa pun cerita ini berkembang menjadi beberapa versi. Swan Maiden yang dituturkan oleh Joseph Jacobs adalah salah satu judul yang paling dikenal meski sekilas mengingatkan kita pada kisah Swan Lake. Pada dasarnya kisahnya sangat mirip dengan Jaka Tarub dan Nawang Wulan (dalam beberapa aspek malah lebih mirip daripada versi Cina maupun Jepang). Hanya saja karakter wanitanya bukan seorang bidadari maupun dewi langit, melainkan seorang wanita yang umumnya putri dari kerajaan yang sangat jauh dan ia mampu berubah wujud menjadi angsa dengan pakaian khususnya.

Seorang pemburu yang kebetulan lewat melihat 7 gadis angsa yang kemudian melepas pakaian angsa mereka lalu mandi di sungai. Si pemburu lalu mencuri pakaian yang tercantik dan termuda dari antara mereka. Ketika gadis-gadis angsa itu selesai mandi, 6 diantaranya menemukan pakaian mereka dan kembali terbang sebagai angsa, sementara yang paling muda menangis sedih. Si pemburu kemudian kasihan dan mengembalikan sebagian pakaian gadis itu, namun menyembunyikan jubah ajaibnya supaya gadis itu tidak terbang meninggalkannya.

Mereka pun menikah, memiliki beberapa anak dan hidup berbahagia, sampai kemudian salah satu anak mereka menemukan jubah angsa yang disembunyikan dan menunjukkannya kepada ibunya. Setelah menemukan jubah angsanya, ia pun memakainya dan terbang kembali ke tempat asalnya meninggalkan suami dan anak-anaknya.Bila suaminya ingin menemukannya kembali maka ia harus melewati berbagai perjalanan berat atau menyelesaikan syarat yang hampir mustahil.

Di Italia, terdapat kisah serupa namun sang wanita dapat berubah menjadi burung merpati. Di Swedia dan Jerman juga terdapat legenda yang mirip, namun dituturkan angsa yang muncul hanya 3 dan bukan 7.

Lain-lain

Di Vietnam terdapat kisah yang lebih mirip dengan Orihime dan Hikoboshi, namun dikenal dengan nama Nguu Lang dan Chuc Nu. Sementara di Filipina juga dikenal cerita dengan judul Seven Young Sky Women yang diceritakan oleh Richard Dorson dalam buku Folktales Told Around the World.

Sumber :

http://en.wikipedia.org/

http://id.wikipedia.org/

http://www.answers.com/topic/jade-emperor

http://www.advancedpoetx.com/ZHINUWEB/zhibeste7.html

http://www.surlalunefairytales.com

11 Komentar

  1. Rossy said,

    Februari 17, 2008 pada 11:39 pm

    Hi, saya lagi mencari cerita Jaka Tarub, versi apapun tidak apa-apa karena mau dipakai sebagai cerita drama anak remaja. apakah bisa menolong saya ?
    Thks sebelumnya.

  2. maygreen said,

    Februari 18, 2008 pada 2:02 am

    Bisa saja. Saya baru saja memposting mengenai kisah Jaka Tarub dan Nawang Wulan di postingan terbaru. Silahkan dilihat dan semoga membantu. ^^

  3. anabel said,

    Maret 16, 2008 pada 11:05 pm

    waduh ada satu orang lagi yang nasib nya sama….
    jaka tarub versi asli ato yang gmana////

  4. maygreen said,

    Maret 16, 2008 pada 11:13 pm

    Kalau ditanya ‘Jaka Tarub’ berasal darimana saya rasa berasal dari Jawa (Jawa Tengah kalau menurut buku yang saya pakai), tapi kalau ditanya asal-usul versi asli cerita Jaka Tarub saya tidak yakin asalnya dari Indonesia. Hampir di seluruh benua (bahkan sampai Eropa) kisah yang serupa menyebar meski dengan nama-nama yang berbeda sesuai dengan daerah masing2.

  5. wil said,

    Mei 20, 2008 pada 2:52 pm

    Jaka Tarub, dalam seting ceritanya di Desa Tarub (kalo sekarang di sekitar Pasuruan-Jawa Timur). Dalam Babad Tanah Jawa (babad=ceita sejarah namun berpadu dgn mitos), Jaka Tarub sendiri nantinya menjadi Ki Ageng Tarub II, yang menjadi mertua dari R. Bondan Kejawan (Brawijaya Pamungkas), pewaris tahta majapahit yang terakhir namun mengembara seiring runtuhnya Majapahit. Salah satu keturunan dari R. Bondan Kejawan adalah Ki Ageng Selo (kalo nggak salah cucu/buyut) -yang dalam legendanya bisa menagkap petir pada Jaman Kerajaan Pajang .

  6. maygreen said,

    Mei 20, 2008 pada 3:03 pm

    Terima kasih untuk koreksi dan informasinya. ^^

  7. iden said,

    Juni 29, 2008 pada 1:46 pm

    hlow….
    saya mau mnta bantuan mengenai jaka tarub untuk saya buat versi komiknya,asli indonesia,, yang saya ingin ketahui adalah nama ayahanda nawang wulan,nama2 ke 7 bdadari itu,trus nama telaganya.makasi ya.. sblumnya.

  8. maygreen said,

    Juni 29, 2008 pada 8:11 pm

    Maaf, tp selama ini yang saya baca tidak pernah disebutkan nama bidadari yg lain maupun nama ayah mereka.

  9. iden said,

    Juli 13, 2008 pada 10:29 am

    o……………….gtu ya,,,!
    tapi ga pa2 kan crita dongeng kta bwat versi komikx!trus pa kita harus minta izin trus,ke siapa??

  10. maygreen said,

    Juli 13, 2008 pada 10:45 am

    Sepertinya tidak masalah, saya pernah melihat komik yang membuat parodi cerita Loro Jongrang dan Ratu Pantai Selatan. Cerita Rakyat biasanya anonim, jadi tidak harus minta ijin-ijin yang rumit. Tp kalau ini untuk tugas kuliah mungkin bisa bertanya pada dosen pembimbing supaya lebih jelas mengenai ijin.

  11. iden said,

    Juli 13, 2008 pada 11:19 am

    thx bnggt ya………,,,mdh2n komikx jd!


Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: