Sebuah Penelusuran Akan Cerita Rakyat

Jurnal pertama di wordpress dan pertama kali saya mencoba menuangkan pikiran lewat artikel seperti ini. Semoga berkenan. ^^

 

Dari sekitar 10-20 orang teman yang saya tanya mengenai cerita rakyat, hanya 1-2 orang yang menjawab lumayan tahu mengenai kisah-kisah cerita rakyat Indonesia. Kebanyakan yang saya tanya sudah lupa atau hanya tahu 1-2 judul. Survey diatas tidak terlalu valid karena saya hanya bertanya ke teman-teman yang saya kenal saja. ^^;

Ketika awal-awal pembuatan “Javanese Folktales Tarot” sebagai Tugas Akhir saya, mau tidak mau lumayan banyak waktu yang habis untuk berkutat pada cerita rakyat Jawa. Untungnya hal-hal seperti fairytales dan folktales memang merupakan subjek favorit saya sehingga bisa dibilang saya menikmati kegiatan ini.Banyak hal-hal menarik yang saya temukan dalam cerita-cerita rakyat Indonesia, khususnya Jawa (sesuai dengan judul TA).

Cerita-cerita rakyat Indonesia umumnya tidak jelas dan sulit ditelusuri sumbernya. Kalaupun ada yang mengarang dan diterbitkan (yang paling banyak beredar antara lain terbitan Grasindo) rasanya sulit untuk disamakan kelasnya dengan Grimms Bersaudara, Perault, Andersen, dan nama-nama lain yang sudah mendunia. Akibatnya keakuratan sulit ditelusuri dan bisa ada banyak versi untuk satu cerita yang sama. Atau kadang beberapa cerita yang berbeda memiliki kemiripan. Lihat saja kisah Roro Anteng, Roro Jonggrang, dan Dayang Sumbi (Legenda Gunung Tangkuban Perahu) yang menggunakan taktik yang sama untuk menolak lamaran. Ciung Wanara dan Cindelaras (kadang dikenal sebagai Panji Kelaras) juga memiliki elemen cerita yang mirip. Kebanyakan cerita rakyat Indonesia merupakan legenda asal usul terjadinya sesuatu atau kisah tentang situs tertentu.

Dari beberapa cerita rakyat Jawa saya juga melihat kecenderungan “ibu” memegang peranan yang penting, terutama pada cerita dengan karakter pria sebagai tokoh sentralnya. Ibu sering menjadi penolong dan pembimbing putranya, atau kadang menjadi motivasi si tokoh dalam bertindak. Peran ibu dalam mengasuh anak juga lebih jelas digambarkan dan peran ayah terkadang diabaikan. Joko Bodo hanya tinggal berdua dengan ibunya di hutan. Cindelaras juga diasuh hanya oleh ibunya sampai akhirnya ia berhasil mencari ayahnya. Mundinglayah di Kusumah juga memulai perjalanan mencari Lalayang Salaka Domas karena mimpi sang ibu.

Dalam Lutung Kasarung ibu menjadi figur wanita ideal bagi si tokoh pria, Guruminda berkata ia hanya ingin menikah dengan wanita yang serupa dan secantik ibunya (indikasi mother complex). Kecenderungan incest juga terasa pada kisah Gunung Tangkuban Perahu antara Sangkuriang dan Dayang Sumbi (meski dalam kisahnya Sangkuriang hilang ingatan dan tidak mau percaya kalau Dayang Sumbi adalah ibu kandungnya).

Hubungan seperti itu jarang terlihat pada cerita-cerita dengan karakter wanita sebagai tokoh utamanya. Karakter wanita cenderung lebih fokus ke pasangan hidup mereka daripada keluarga, dan mereka jarang mengandalkan bantuan keluarga ketika sedang ditimpa kesulitan (kadang justru keluarga lah yang memberikan kesulitan kepada mereka). Mereka cenderung mengandalkan diri sendiri ketika menghadapi kesulitan, dan yang dilakukan antara menggunakan kesabaran atau kecerdikan.

Golongan yang menggunakan kesabaran umumnya tipikal dan klise. Mereka dibuat semenderita dan semenyedihkan mungkin namun tetap tabah menerima semua cobaan sampai kemudian datang pertolongan dari pihak luar atau dari pasangan hidup mereka (Keong Mas, Bawang Merah Bawang Putih, Purbasari dari Lutung Kasarung, dll). Pola seperti ini sering kita lihat masih banyak dipakai dalam sinetron sekarang. Dalam Legenda Banyuwangi, nasib tokoh wanitanya bahkan tidak bisa dibilang berakhir bahagia. Karakter wanita yang mengandalkan kecerdikan umumnya tidak semenderita golongan sebelumnya, namun tidak banyak variasi cerita pada golongan ini karena masalah mereka umumnya adalah bagaimana menolak lamaran dengan taktik yang sama. ^^;

Cerita Rakyat Jawa juga memberikan gambaran akan masyarakat Jawa yang umumnya petani. Dalam beberapa cerita ayam juga menjadi unsur penting. Mereka memberi tanda kalau pagi sudah tiba dan waktunya untuk bangun dan kembali bekerja. Adu ayam juga sepertinya merupakan hiburan yang populer di masa lalu kalau melihat kisah Cindelaras atau Ciung Wanara.

Kalau ditanya cerita apa yang paling dikenal orang maka jawaban yang muncul umumnya Legenda Gunung Tangkuban Perahu, kisah Sangkuriang dan Dayang Sumbi. Ketika saya kembali membaca ceritanya setelah sekian lama, saya cukup terkejut dengan isinya. Gunung Tangkuban Perahu merupakan salah satu kisah yang menunjukkan kalau sebenarnya cerita rakyat kadang bukan konsumsi anak-anak. Ketika kecil dulu mungkin karena tidak mengerti maka saya masih bisa merasa wajar dengan ceritanya.

Kisah yang kompleks ini dibuka dengan bagaimana Dayang Sumbi terlahir di dunia. Seekor babi betina bernama Celeng Wayungyang yang sedang bertapa tanpa sengaja meminum air seni seorang raja dan kemudian melahirkan seorang bayi perempuan. Bayi tersebut kemudian ditemukan oleh sang raja dan diberi nama Dayang Sumbi dimana ia kemudian diasuh sebagai seorang putri. Di suatu hari yang panas, ketika Dayang Sumbi sedang menenun di panggung, salah satu alat tenunnya jatuh dan ia berkata siapapun yang mau mengambilkannya kalau lelaki menjadi suami dan kalau perempuan menjadi saudara. Yang kemudian mengambilkannya adalah seekor anjing jantan bertama Tumang. Dayang Sumbi kemudian tertidur karena lelah, dan anjing tersebut melangkahinya beberapa kali sehingga Dayang Sumbi hamil.

Dari awal kisah dapat terasa unsur bestiality yang jelas. Memang terkadang ada kisah lain yang juga memiliki unsur ini seperti kisah Singoprono dan Putri Babi Hutan. Kalau dari luar negri mungkin seperti kisah balas budi burung bangau. Awal kisah ini juga menjelaskan kalau ibu Dayang Sumbi adalah seekor babi hutan dan suaminya adalah seekor anjing. Entah apakah ini menjadi faktor hiburan untuk cerita jaman dulu atau merupakan perumpamaan dari bentuk lain.

Karena hamil secara tidak jelas Dayang Sumbi pun diusir ke hutan dan melahirkan putranya Sangkuriang. Ketika agak besar, Sangkuriang yang suka berburu hendak menangkap Celeng Wayungyang. Namun Tumang yang tahu kalau babi hutan itu adalah ibu dari Dayang Sumbi berusaha mencegahnya. Akibatnya Sangkuriang menjadi kesal dan membunuh Tumang yang merupakan ayahnya sendiri (entah apa Sangkuriang tahu akan hal ini ^^;;) dan bahkan menyuguhkan hati si anjing sebagai makanan kepada ibunya. Ketika tahu apa yang terjadi, Dayang Sumbi menjadi marah besar dan memukuli kepala Sangkuriang hingga terluka. Sangkuriang yang ketakutan kemudian lari dari rumah dan luka di kepalanya membuat anak muda itu kehilangan ingatan.

Bagian selanjutnya umumnya lebih diingat oleh banyak orang. Sangkuriang dewasa kemudian kembali ke kampung halamannya dan jatuh cinta pada Dayang Sumbi. Namun begitu tahu Sangkuriang adalah putranya yang hilang maka Dayang Sumbi menolak lamarannya, namun Sangkuriang tidak percaya dan bersikeras sehingga Dayang Sumbi mengajukan syarat bagi pemuda itu untuk membendung sungai menjadi danau dan membuat perahu besar sebelum pagi tiba. Akhirnya seperti yang banyakorang tahu, niat Sangkuriang digagalkan karena Dayang Sumbi kemudian membuat ayam berkokok sebelum waktunya sehingga orang-orang mengira pagi sudah tiba.

Legenda Gunung Tangkuban Perahu merupakan sau contoh cerita rakyat yang cukup aneh kalau dilihat oleh budaya modern. Kisah pengintipan Jaka Tarub pada bidadari-bidadari yang sedang mandi atau adu ayam yang sering muncul dalam kisah cerita rakyat juga tidak bisa diajarkan sebagai sesuatu yang benar kepada anak-anak. Versi yang beredar di jaman sekarang umumnya sudah jauh diperhalus supaya anak-anak masih bisa menikmatinya. Jaka Tarub dan Nawang Wulan juga sebenarnya merupakan cerita yang sangat menarik karena cerita yang serupa seperti ini juga dapat ditemukan di negara-negara Asia yang lain. Entah darimana asal muasal kisah ini sesungguhnya.

Meski demikian, cerita rakyat dengan tujuan untuk edukasi moral bukannya tidak ada. Malin Kundang merupakan cerita moral edukasi yang paling terkenal dan mengajarkan denga jelas kalau jadi anak tidak boleh durhaka atau lupa pada orang tua. Versi Jawa dari cerita ini kadang dikenal dengan judul Dampo Awang. Ada juga kisah Telaga Warna, mengenai seorang putri yang manja dan kemudian menenggelamkan negerinya sampai tak bersisa, atau kisah Timun Mas yang berjuang melarikan diri dari raksasa yang hendak menangkapnya. Timun Mas merupakan pengecualian sebagai karakter wanita yang orang tuanya mengambil andil penting dalam cerita.

Di Jaman sekarang ini cerita rakyat lokal sudah dianggap kuno, mungkin karena kisahnya yang dianggap klise sementara cerita-cerita modern menawarkan variasi yang lebih menarik. Meski demikian saya tidak ingin melupakan kisah-kisah klasik ini dan semoga saya bisa ambil andil dalam melestarikannya. ^^

15 Komentar

  1. tito said,

    Juli 11, 2007 pada 6:24 am

    salam kenal mbak. Entah orang Indonesia sepertinya jarang yang benar-benar melakukan eksplorasi maksimal terhadap pengembangan cerita jaman dahulu. Yang tak perlu riset rumit ya cerita yang berlatar jaman modern. Susah ya kalau masih berorientasi pada duit.

  2. guruminda said,

    Desember 16, 2007 pada 5:18 pm

    rasanya ingin membaca secara lengkap cerita yang telah lama hilang ini… bahkan dulu sering diceritakan tentang dongeng-dongen dari Nek Adah

  3. anabel said,

    Maret 14, 2008 pada 5:00 pm

    hi,
    g tertarik banget nih sama kasus cerita rakyat indonesia,
    apalagi TA g juga lagi bikin animasi cerita rakyat Jaka tarub.

    sebenarnya desa Tarub itu ada ga sih?
    versi aslinya itu sebenarnya Jawa timur apa bukan?
    kok ada di kalimantan versinya sama cuma namanya beda.(judulnya lupa….kalo ga salah ada Telaganya gitu…)
    thanks

  4. maygreen said,

    Maret 14, 2008 pada 7:09 pm

    Wow, semoga sukses untuk TAnya. ^^ Di Jawa Tengah memang ada desa yang bernama Desa Tarub, mungkin dari situ lah asal nama Jaka Tarub. Versi asli cerita ini sebenarnya saya rasa bahkan bukan dari Indonesia. Di Cina, Jepang, bahkan sampai Eropa juga terdapat cerita yang serupa meski dengan nama atau bentuk yang berbeda. Karena itu kalau di Kalimantan juga terdapat cerita yang mirip saya rasa bukan hal yang aneh mengingat persebagar kisah ini lumayan mendunia. ^^;

  5. anabel said,

    Maret 16, 2008 pada 10:57 pm

    hehehe makasih ya.

    itu dia yang jadi dilema buat saya.
    kalo di buku2, tertulis bahwa Jaka Tarub adalah cerita rakyat asli Jawa timur.
    tapi letak desanya ada di jawa Tengah….
    berhubung pengen survey langsung ke sana tapi takut salah alamat hahahaha

    apa ada referensi website atau artikel yang membahas detil jaka tarub?

  6. maygreen said,

    Maret 16, 2008 pada 11:10 pm

    Yang saya tahu kalau di Jawa Timur namanya justru menjadi Aryo Menak dan Tunjung Wulan. Saya tidak pernah menemukan website yang membahas secara detil mengenai kisah ini secara detil, kebanyakan hanya menuturkan ceritanya saja. Kalau referensi buku, bisa dicari buku2 Folklor karangan James Danandjaja. Sejauh ini hanya buku karangan beliau yang saya lihat menulis tentang kajian-kajian cerita rakyat.

  7. ricky said,

    April 2, 2008 pada 8:36 pm

    menurut saya akan lebih menarik jika cerita jawa diperbanyak di internet

  8. henofa said,

    April 5, 2008 pada 1:20 pm

    bagus lah meningkatkan rasa cionta tanah air

  9. riyo W said,

    April 12, 2008 pada 10:52 am

    mbak saya boleh minta alamat emailnya?? saya pengin tau info2 ttg jaka tarub, untuk tulisan saya.. thx

  10. maygreen said,

    April 12, 2008 pada 8:58 pm

    Ada di profile sih. Email saya silver_fantasy_2000@yahoo.com.

  11. meyka said,

    Mei 5, 2008 pada 10:17 pm

    tolong lengapi ge dong tentang bawang merah bawang putih, alangkah baiknya kasih gambar agar lebih menarik.key??

  12. meyka said,

    Mei 5, 2008 pada 10:19 pm

    lengkapi gambar dunk…biar lebih menarik.

  13. roy candra said,

    Agustus 9, 2008 pada 3:13 pm

    .aq c!h pcaya ja…
    cozzz,q rang bwi tap napa,orang2 gak pcaya ma,legenda kota ndiri.
    klu ktk,50%50,bsa ya
    bsa tidakkkkk.
    th4nk’ssssssssssssss

  14. syahrina said,

    Agustus 24, 2008 pada 1:11 pm

    aQ sh kdang2 prcya sma yg nmanya crta rkyat tpi apa crita2 kya gtu trbkti adanya??? ga lucu kan klo kta hrus prcya sma crta2 bhongan

  15. vicky said,

    Oktober 29, 2008 pada 9:00 pm

    saya pingin tau tentang cerita sang kuriang dng ringkas


Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: